Total Tayangan Halaman

Sabtu, 03 Januari 2015

Laporan Novel Fiksi

1. Identitas
Novel Judul Novel : Tears In Heaven
Penulis : Kim Chonji
Editor : Nova Novieta
Penerbit : Hi-Fest Publishing
Tahun Terbit : 2013
Cetakan : Pertama
Ukuran Buku : 13 x 19 cm
Jumlah Halaman : 172 Halaman
ISBN : 978-602-8814-25-6
2. Unsur Intrinsik Novel

a. Tema Kisah cinta seorang gadis penjaga toko dengan bosnya. b. Penokohan • Han Geuk (tokoh utama) : seorang gadis yang sudah tidak memiliki ayah namun tetap semangat dalam menjalani hari-harinya meski hanya sebagai karyawan toko sepatu. ”Hari ini Han Geuk kembali bekerja. Masa cutinya telah berakhir. Dengan penuh semangat, ia melangkah menuju ke outlet tempatnya bekerja. Kali ini ia datang lebih awal bahkan sebelum karyawa-karyawan outlet datang ia sudah sampai.” • Sunji : sebagai sahabat baik dari Han Geuk (tokoh utama). ”Sunji dekat dengan Han Geuk, mereka sama-sama berasal dari distrik tempat tinggal yang berada di pinggiran kota Seoul. Bahkan Sunji sudah dianggap adik oleh Han Geuk.” • Manager Kim : atasan Han Geuk (tokoh utama) yang baik hati dan bijaksana. ”Tidak. Aku justru ingin agar kau tetap disini bersamaku. Tadi siang Bos Besar menelponku. Ia minta kau dipindahkan ke Busan karena prestasimu di toko ini. Kau juga dianggap sebagai senior yang bisa memberi contoh pada junior.” • Bos muda Lee : seorang pemuda yang mencintai karyawannya yaitu Han Geuk (tokoh utama) dan selalu melindungi Han Geuk. ”Suatu hari, ia memutuskan untuk mengungkapkan isi hatinya kepada Han Geuk. Ia pun berencana mengajak Han Geuk menemui orangtuanya.” ”Seorang pemuda yang dari tadi memperhatikan Han Geuk segera berlari menerjang hujan. Tubuh Han Geuk yang tergeletak tak sadarkan diri itu segera ia raih dan dibawanya menuju ke tempat penginapan.” • Sun Hye : gadis yang dijodohkan kepada Bos muda Lee oleh orangtuanya, namun ia jahat dan matrealistis. ”Hey, lihat baik-baik perempuan ini. Bagaimana mungkin kau bisa membatalkan pertunanganmu hanya karena perempuan miskin seperti dia?” Sun Hye menarik tangan Han Geuk hingga Han Geuk terpaksa melangkah ke luar rumah. ”Sun Hye hanya mengincar kekayaan keluargaku.” • Ibu Han Geuk : seorang ibu dari Han Geuk (tokoh utama) yang memiliki sifat penyayang. ”Bagaimana ibu tidak khawatir, lihatlah selang infus yang ini..” ”Han Geuk kembali memeluk erat ibunya. Ia merasa sangat beruntung lahir dari keluarga yang penuh kehangatan dan pengertian.” c. Setting/Latar 1) Waktu • Malam ”Malam itu sepulang kerja.” ”Jam dinding menunjukkan angka 11 malam.” ”Malam tahun baru kali ini diguyur hujan.....” ”Han Geuk kembali menatap bintang yang paling bersinar terang itu.” • Pagi ”Sudah jam 7 pagi, dan ia baru bangun tidur!” ”Han geuk pun sudah bangun sejak pukul 3 pagi.” ”Matahari pun muncul perlahan dari arah timur.” ”Pagi itu cuaca mendung menyelimuti Myeongdong.” • Siang ”Siang itu manager Kim berpamitan.....” ”Manager Kim melihat jam tangannya, ternyata sudah pukul 12 siang.” ”Jam dinding menunjukkan pukul 12 siang.” ”Apa kau mau makan siang bersamaku?” 2) Tempat • Toko sepatu ”Han Geuk terus memperhatikan pemuda yang tampak asik dengan salah satu produk sepatu.” • Rumah Han Geuk ”Di sebuah rumah kecil sederhana, Han Geuk dan ibunya tampak sibuk membereskan barang-barang.” • Pantai Jungmun ”Pantai Jungmun terlihat ramai. Sepertinya para wisatawan tak pernah bosan menikmati hamparan pasir putih yang sangat bersih.” • Gazebo ”.....Han Geuk menikmati es kelapa muda di sebuah gazebo yang ada di pinggir pantai.” • Seongsan Ilchulbong ”Akhirnya mereka sampai juga di Seongsan Ilchulbong yang dari kejauhan tampak seperti mangkuk.” • Rumah sakit ”Seorang suster tampak memeriksa denyut nadinya.” • Busan ”Baiklah. Kita sudah sampai di Busan.” • Kereta cepat KTX ”Bos muda Lee kemudian mengajak Han Geuk untuk naik kereta yang membawa mereka ke Busan.” • Restaurant ”Restaurant kimchi yang terletak di food court belum begitu ramai. Manager Kim memesan meja untuk makan bertiga.” • Taksi ”Han Geuk yang berada dalam taksi terlihat cemas. ” 3) Suasana • Menegangkan ” ”Hey, lihat baik-baik perempuan ini. Bagaimana mungkin kau bisa membatalkan pertunanganmu hanya karena perempuan miskin seperti dia?” Sun Hye menarik tangan Han Geuk. ”Jaga sikapmu!” bos muda Lee terlihat marah.” • Bahagia ”Sejak bos muda Lee mengungkapkan perasaannya, Han Geuk tampak sering tersenyum sendiri. Hal ini membuat ibunya menjadi heran.” • Sedih ”Seorang pemuda tampak tergeletak di trotoar. Kondisi pemuda itu sepertinya cukup parah karena helm yang dikenakannya hancur. Begitu sampai ke tempat kecelakaan. Han Geuk langsung menjerit ”Lee, bangun lee! Bangun!” teriak Han geuk.” d. Alur 1) Tahap Perkenalan (Memperkenalkan siapa tokoh utama dalam cerita tersebut) Lee Han Geuk, nama gadis penjaga toko itu. Ia biasa dipanggil Han Geuk. Usianya menginjak dua puluh lima tahun. Wajahnya cantik, berwajah oriental dengan mata sendu serta rambut panjang lurus sebahu yang selalu diikat bila ia bekerja menjaga toko. 2) Tahap Permunculan Konflik (Han Geuk bertemu dengan pemuda menyebalkan saat liburan. Namun saat ia kembali bekerja, ternyata itu adalah bos barunya.) Matahari hampir tenggelam ketika Han Geuk menimati es kelapa muda di sebuah gazebo yang ada di pinggir pantai. Tiba-tiba matanya menangkap sosok seorang pemuda yang sepertinya tak asing baginya. Pemuda menyebalkan yang pernah datang ke outlet toko sepatu Starseven. ”Han Geuk, perkenalkan Bos Lee...” ucap manager Kim. Han Geuk mengulurkan tangannya, namun betapa terkejutnya ia begitu lelaki itu menoleh dan menatapnya. Han Geuk pun permisi kembali ke meja kerjanya. Ia mulai merasa bersalah karena telah bersikap dingin dan menyebalkan kepada pemuda yang ternyata bos barunya itu. 3) Tahap Peningkatan Konflik (Han Geuk dan bos barunya yaitu bos muda Lee sudah mulai dekat. Namun tiba-tiba Sun Hye mantan tunangan bos muda Lee yang mengetahui kedekatan mereka, datang memarahi Han Geuk) Tok..tok..tok.. Han Geuk segera berdiri dan menuju ke pintu. ”Apa Lee ada disini?” tanya wanita itu. ”Sun Hye mau apalagi kau kesini?” tiba-tiba bos muda Lee sudah berdiri di belakang Han Geuk. ”Hey lihat baik-baik perempuan ini. Bagaimana mungkin kau bisa membatalkan pertunanganmu hanya karena perempuan miskin seperti dia?” ”Jaga sikapmu! Pergilah! Dan jangan pernah aku melihatmu lagi.” 4) Tahap Klimasi (Setelah Sun Hye pergi dari kehidupan Han Geuk dan bos muda Lee. Akhirnya bos muda Lee menyatakan cintanya kepada Han Geuk.) Hari itu, sebelum pulang bos muda Lee meminta Han geuk menemaninya menemui rekan bisnis di sebuah tempat. Ia sengaja tak mengatakan nama tempatnya karena khawatir Han Geuk akan menolak. Bulan mulai terlihat meski tertutup awan. Bos muda Lee mengajak Han Geuk berjalan di taman. ”Han Geuk...” ”Kenapa?” ”Aku mencintaimu..” ”Kalau kau benar-benar mencintaiku, tolong yakinkan aku..” 5) Tahap Akhir Cerita (Han Geuk belum memberi jawaban mengenai ungkapan cinta bos muda Lee. Ketika Han Geuk akan memberikan jawaban, bos muda Lee mengalami kecelakaan dan meninggal dunia.) Bos muda Lee melangkah keluar meninggalkan outlet. Sejenak ia menghentikan langkah kakinya, berharap Han Geuk akan menyusulnya. Namun, tak ada siapapun di belakangnya. Akhirnya Han Geuk memutuskan untuk menyusul bos muda Lee. Tiba-tiba di sebuah perempatan jalan tampak ramai orang-orang. Seorang pemuda tampak tergeletak di trotoar. Beberapa orang mencoba memanggil ambulan. Begitu sampai di tempat kecelakaan, Han Geuk langsung menjerit. ”Lee! Lee, bangun Lee! Bangun!” teriak Han Geuk. ”Han Geuk..aku mencintaimu.. A.. aku.. ak. .an.. menemani.. mu.. seti.. ap. .hujan.. datang” ucap bos muda Lee. Mata yang tadi terbuka lemah menatap Han Geuk kini kembali terpejam. e. Sudut Pandang Orang ketiga serba tahu ”Lee Han Geuk, nama gadis penjaga toko itu. Ia biasa dipanggil Han Geuk. Usianya menginjak dua puluh lima tahun. Wajahnya cantik, berwajah oriental dengan mata sendu serta rambut panjang lurus sebahu yang selalu diikat bila ia bekerja menjaga toko.” f. Gaya Bahasa Gaya bahasa bentuk ungkapan ”Hujan adalah tangisan para penghuni surga. Tangisan bahagia dari doa-doa yang diucapkan oleh mereka yang memiliki cinta.” g. Amanat Jangan sia-siakan orang yang benar-benar tulus mencintai kita, karena mungkin saja dia akan pergi mendahului kita. Kita tidak pernah tau kapan ajal menjemput. 3. Unsur Ekstrinsik Novel a. Nilai Budaya Nilai budaya yang terkandung dalam novel ”Tears in Heaven” yaitu bahwa setiap keluarga memiliki kebiasaan tersendiri, sehingga ketika salah satu keluarganya meninggal akan tersimpan banyak kenangan. Keluarga Han Geuk memiliki kebiasaan memetik ginseng dari kebun dan selalu meminum teh ginseng yang dipercaya banyak memiliki khasiat. b. Nilai Sosial Nilai sosial yang terkandung dalam novel ”Tears ini Heaven” yaitu bahwa setiap orang tidak boleh memandang seseorang dari status sosialnya, melihat hartanya atau pekerjaannya. Bos muda Lee mencintai Han Geuk. Padahal Han Geuk hanyalah gadis biasa yang bekerja sebagai karyawan di toko sepatu. c. Nilai Moral Nilai moral yang terkandung dalam novel ”Tears in Heaven” yaitu bahwa ketika kita memiliki sifat egois atau bertindak semena-mena kepada orang lain, kita akan ditinggalkan oleh orang yang kita cintai. Sun Hye memiliki sifat egois dan semena-mena kepada Han Geuk dengan menghina Han Geuk karena miskin, akhirnya bos muda Lee pun membatalkan tunangannya dengan Sun Hye.
4. Ringkasan Novel Lee Han Geuk, nama gadis penjaga toko itu. Ia biasa dipanggil Han Geuk. Usianya menginjak dua puluh lima tahun. Hari itu sepertinya memang hari yang tak bersahabat dengan Han Geuk. Sejak pertama kali ia datang ke toko sudah dimarahi oleh manager karena terlambat. Siang tadi pun ada seorang anak kecil menumpahkan es krim ke salah satu sepatu. Kini, gadis gila yang menurutnya norak tiba-tiba saja sok kaya berlagak membeli sepatu model terbaru yang paling mahal di toko itu sambil marah-marah. ”Han Geuk, aku ingin bicara. Masuklah!” kata manager kim ”Sudah berapa lama kau bekerja di toko ini?” ”Bulan depan genap tiga tahun” ”Beberapa outlet baru mulai dibangun, salah satunya di Busan. Bos besar menelponku, ia minta kau dipindahkan ke Busan. Aku bilang kau tetap di Myeongdong. Aku memilih Sunji menggantikanmu ke Busan” ”Baiklah, kalau begitu.” Sunji terlihat girang. ” Sunji, kau terlihat senang? Ada apa?” tanya Han Geuk. ”Manager Kim menawariku promosi ke Busan! Aku akan mentraktirmu makan sepuasnya.” jawab Sunji dengan suara sangat senang. Sinar matahari masuk menembus jendela. Ia kaget, sudah pukul 7 pagi, dan ia baru bangun tidur! ”Kau terlambat lagi Han Geuk...” manager Kim sinis. ”Mungkin aku terlalu lelah, akhir-akhir ini kondisiku menurun. Maaf.” ”Kau terlalu banyak pikiran sepertinya. Mungkin benar, kau harus ambil jatah cutimu.” Siang itu manager Kim berpamitan pada seluruh karyawan untuk pergi ke Busan. Urusan outlet diserahkan ke Han Geuk. Suatu saat, seorang pemuda terlihat modar-mandir di dalam outlet selama hampir setengah jam. Ia memperhatikan setiap detail sepatu, outlet, bahkan sesekali mengawasi karyawan yang sedang bertugas. Melihat gelagat itu, Han Geuk pun makin waspada karena ia berpikir pemuda itu mungkin akan melakukan hal yang tak baik. Pemuda itu lalu keluar dari outlet. Hari mulai malam, malam itu ada sebuah pertunjukkan malam tahun baru. Namun badannya terasa letih, ia pun memutuskan untuk pulang. Han geuk merebahkan dirinya di kasur tipis di lantai kamar tidurnya. Hujan yang turun cukup deras membuatnya kembali ke masa lalu. Air mata Han Geuk makin deras mengalir. Bayangan wajah ayahnya makin nyata terlihat. Han Geuk kemudian menutup matanya lalu berdoa. --- Han geuk merencanakan liburan ke Pulau Jeju untuk menghabiskan jatah cuti seminggu yang diberikan oleh manager Kim. Hamparan pasir putih tersaji di sepanjang Pantai Jungmun, sebuah pantai yang sangat terkenal di Pulau Jeju. Matahari hampir tenggelam ketika Han Geuk menimati es kelapa muda di sebuah gazebo yang ada di pinggir pantai. Tiba-tiba matanya menangkap sosok seorang pemuda yang sepertinya tak asing baginya. Pemuda menyebalkan yang pernah datang ke outlet toko sepatu Starseven. Matahari sudah hampir terbenam, langit mulai berwarna gelap. Namun, pemuda itu masih saja berbaring di kursi gazebo. Tak lama kemudian datang pelayan menuju pemuda itu untuk menyerahkan bon. Pemuda itu pun langsung membayar. Tak berapa lama kemudian ia melangkah pergi meninggalkan gazebo. Han Geuk pun tak ingin menunggu, ia segera bangun dan berlari menuju hotel. --- Han Geuk berbaring di sofa kecil yang ada di kamar hotelnya. Pikirannya masih tentang pemuda menyebalkan yang entah kenapa harus berada di Pulau Jeju. Tak berapa lama, ia pun tertidur. Han Geuk berjalan menyusuri pantai menuju sebuah anjungan kecil yang terletak tak jauh dari gazebo. Tiba-tiba matanya menangkap sosok lelaki yang sedang berlari di bibir pantai menuju arahnya. Tiba-tiba ombak besar datang, ia terhempas hampir jatuh ke laut. Han Geuk pun jatuh ke laut dan terseret ombak ke tengah laut. Tiba-tiba dari arah belakang ada tangan yang memegang bahunya. Pemuda itu kemudian berusaha untuk menolongnya agar tak tenggelam. Brak! Han Geuk jatuh dari sofa. Rupanya ia bermimpi buruk tenggelam di lautan. ”Ayah, aku mimpi buruk.” ucapnya sambil mengusap airmata. Ia pun menuju tempat tidur, lalu memejamkan matanya berharap dapat tidur dengan nyenyak. Sementara itu, seorang pemuda tampak berdiri sendirian di anjungan. ”Aku yakin pernah melihat gadis itu, gadis yang sama di outlet.” batinnya sambil mengingat kejadian di outlet. --- Hari kedua liburan di Pulau Jeju, Han Geuk berencana untuk mengunjungi Seongsan Ilchulbong untuk menikmati sunrise. Akhirnya sampai juga di Seongsan Ilchulbong yang dari kejauhan tampak seperti mangkuk. Matahari pun muncul perlahan dari arah timur. Han Geuk berjalan dari satu sisi ke sisi lainnya hingga ia menabrak seseorang yang sedang mengambil gambar matahari terbit melalui handycam. Orang yang ditabrak Han Geuk adalah pemuda yang sama yang datang ke outlet sepatu dan juga yang kemarin ada di gazebo. Han Geuk kesal dengan pemuda itu. Ia kemudian berjalan menjauhi pemuda yang tampak asik merekam matahari terbit. --- Pantai Jungmun terlihat ramai. Matahari yang tadi pagi bersinar hangat kini sedikit tertutup awan. Cuaca mulai mendung. Benar saja, hujan tiba-tiba turun dengan sangat derasnya. Han Geuk berusaha berlari ke pohon. Tubuh Han Geuk menggigil, kepalanya terasa pusing, perlahan penglihatannya mulai gelap. Akhirnya Han Geuk jatuh tak sadarkan diri. Seorang pemuda yang dari tadi memperhatikan Han Geuk segera berlari menerjang hujan. Di sebuah kamar rumah sakit, Han Geuk terbaring masih tak sadarkan diri. Jemari Han Geuk bergerak, ia mulai sadarkan diri. Keesokan harinya, dokter mengijinkan Han Geuk untuk pulang. Ia segera menyetop taksi dan melaju ke hotel tempatnya menginap. Han Geuk kemudian merapikan semua perlengkapannya. Ia kemudian meninggalkan hotel menuju ke Bandara Jeju. Pesawat ke Seoul sudah tersedia. Han Geuk pun berdiri dan melangkah menuju ruang masuk pesawat. Sesekali ia menatap ke belakang, entah kenapa ia berharap akan ketemu dengan pemuda yang menyebalkan itu. --- Hari ini Han Geuk kembali bekerja. ”Han Geuk, rupanya kau sudah kembali dari liburanmu.” sapa manager Kim. ”Manager Kim, boleh ku tahu meja di ruangan manager itu untuk siapa?” ”Itu meja untuk bos baru.” ”Nanti ia akan masuk hari ini” Tepat pukul sepuluh pagi, seorang pemuda berpakaian rapi masuk ke dalam toko. ”Han Geuk, perkenalkan Bos Lee...” ucap manager Kim. Han Geuk mengulurkan tangannya, namun betapa terkejutnya ia begitu lelaki itu menoleh dan menatapnya. Han Geuk pun permisi kembali ke meja kerjanya. Ia mulai merasa bersalah karena telah bersikap dingin dan menyebalkan kepada pemuda yang ternyata bos barunya itu. ”Han Geuk, ayo istirahat.” ajak manager Kim. Mereka bertiga menuju sebuah restaurant kimchi yang terletak di food court. Setelah memesan makanan, manager Kim permisi menuju ke toilet. ”Kau terkejut karena pemuda menyebalkan yang membuatmu kesal ternyata atasanmu?” ”Iya. Aku pikir saat itu bos muda Lee ingin mencuri. Maafkan saya..” --- Semenjak kedatangan bos muda Lee, suasana outlet menjadi ceria. Perlahan rasa rindunya pada Sunji yang biasanya singgah sekedar untuk bercerita kini menghinggapi hatinya. Sesaat setelah Han Geuk sampai ke rumah teleponnya berdering. ”Waaahh..Sunjiiii...” Sunji tak bisa lama-lama menelpon. Han Geuk lalu menutup teleponnya. Han Geuk kemudian duduk di sofa kecil sambil menonton televisi. Berita tentang cuaca yang diperkirakan memburuk menjadi headline. Tiba-tiba Han Geuk teringat pada ayahnya lagi. Pikiran Han Geuk melayang ke masa kecilnya dulu. Trrttt..trrttt.. Suara dering telepon membuyarkan lamunan Han Geuk tentang masa kecil bersama ayahnya. ”Han Geuk..” ”Bos muda Lee..” ”Besok pagi aku ingin kau menemaniku ke Busan.” ”Baik bos muda Lee..” --- Pagi itu Han Geuk melangkah sendirian menuju Lotte Department Store. Tiba-tiba sebuah sepeda motor sport mencegat langkahnya. ”Bos muda Lee?” ”Naiklah.” Dengan perasaan tak enak, Han Geuk pun melingkarkan tangannya pada tubuh bos muda Lee. Tak berapa lama mereka sampai di sebuah tempat parkir stasiun subway kereta cepat. Bos muda Lee kemudian mengajak Han Geuk untuk naik ke kereta yang membawa mereka ke Busan. ”Han Geuk, wajahmu terlihat pucat.” ”Oh, tidak apa-apa.” ”Bersandarlah, istirahat sejenak.” Akhirnya Han Geuk pun bersandar ke tubuh bos muda Lee, hingga tertidur. Han Geuk dan bos muda Lee menaiki sebuah mobil sedan yang menjemput mereka di stasiun kereta cepat. Tak berapa lama, mereka tiba di sebuah gedung yang bergaya futuristik. Bos muda lalu mengenalkan Han Geuk pada seorang perempuan yang sepertinya seorang piƱata kostum. Seorang perempuan berpakaian sporty yang membawakan acara tampak mulai berbicara di depan panggung. Begitu namanya dipanggil, Han Geuk pun berdiri dan melangkah pelan keluar dari ruangannya. Ia berusaha melangkah dengan sangat hati-hati. Perlahan ia berjalan mengitari catwalk, matanya menatap tajam ke arah bos muda Lee yang tersenyum sambil mengacungkan jempolnya. ”Apa yang kau lakukan? Aku tak percaya kau memanfaatkanku begitu saja.” Han Geuk kemudian berjalan menuju lift. Bos muda Lee segera mengejarnya. Han Geuk menatap bos muda Lee, airmata Han Geuk menetes membelah pipinya. Ia berjalan cepat menuju keluar gedung, bos muda Lee mengejarnya. Han Geuk kemudian memanggil taksi. Bos muda Lee ikut masuk ke dalam taksi. Wajah Han Geuk mulai terlihat pucat. Bos muda Lee kemudian memberikan jaketnya pada Han Geuk. Mereka pun turun lalu menuju ke loket untuk membeli tiket ke seoul. --- Udara lembab begitu terasa di Myeongdong. Han Geuk tampak membawa cangkir teh menuju ke ruang tengah dimana bos muda Lee sibuk membaca majalah. ”Maaf kalau rumahku berantakan,” ucap Han Geuk. Mereka berdua lalu mulai asik mengobrol, rasa canggung yang sebelumnya ada di hati Han Geuk kini perlahan hilang. Bos muda Lee berpamitan kepada Han Geuk. Namun, tiba-tiba hujan turun. Mereka pun masuk kembali ke dalam rumah. Han Geuk merasakan kantuk, ia pun tertidur di sofa. Bos muda Lee akhirnya berbaring di lantai dekat sofa tempat tidur Han Geuk. Matahari sudah terbit. Han Geuk pun terbangun, betapa kagetnya ketika ia melihat bos muda Lee tertidur meringkuk di lantai. Han Geuk pun memutuskan untuk berangkat kerja dan menuliskan catatan di selembar kertas. Han Geuk lalu meletakkan kertas itu di dekat cangkir teh ginseng yang ia buat. Bos muda Lee menggeliat bangun dari tidurnya. Bos muda Lee mengambil kertas itu dan membacanya, lalu mengambil cangkir teh ginseng . Bos muda Lee berjalan masuk outlet. Wajahnya terlihat masih mengantuk. ”Bos, sepertinya kau sangat lelah? Apa kau sudah makan?” ucap manager kim. ”Belum. Oh, ini sudah jam istirahat ya?” ”Aku dengar ada kedai yang menyajikan Kimchi sangat lezat.” ”Baiklah.” Tak berapa lama, sampai di halaman parkir sebuah kedai makan. Namun kedai itu terlihat sangat ramai. ”Waaah..bagaimana kita bisa makan?” ujar Han Geuk. ”Biar aku yang mencoba mencari meja,” jawab manager Kim. ”Han Geuk kau mau menyentuh ikan tidak? Tapi ikan yang sebelah sana” teriak bos muda Lee. ”Aku..akan..menyentuhnya!” Han Geuk berjalan menyeberang jalan menuju taman. Gerimis tiba-tiba datang, beberapa orang berlarian mencari tempat berteduh. Han Geuk berusaha untuk kembali ke kedai. Gerimis makin besar, Han Geuk pun terlihat basah. Matanya mulai samar. Bos muda Lee berdiri di seberang jalan sambil membawa payung, namun Han Geuk jatuh ke trotoar. Han Geuk lalu membuka matanya perlahan. Seorang dokter tampak sedang memandangnya. Han Geuk melihat ke sekeliling ruangan. Sosok ayah yang ia lihat tadi sudah tidak ada, sepertinya ia bermimpi. ”Han Geuk!” ”Manager Kim...” ”Bagaimana keadaanmu?” ”Aku tidak apa-apa.” ”Bos muda Lee langsung menelpon ibumu. Bos muda Lee sedang menjemputnya.” ”Kenapa harus memberi kabar pada Ibu, ia pasti sangat khawatir.” Tak berapa lama, seorang perempuan masuk ke dalam ruangan disusul oleh bos muda Lee. ”Ibuuuu..” Seharian itu Han Geuk dan ibunya tampak bercerita melepas rindu. ”Oh iya, bosmu itu baik sekali Han Geuk. Ia sangat mengkhawatirkanmu.” ”Semua orang mengkhawatirkanku..” ”Ibu pikir dia menyukaimu.” ”Ibu, jangan memulai...” ”Ibu pikir kau sudah sepantasnya menikah.” ”Tapi Han Geuk benar-benar belum ingin menikah. Lagipula pacar saja tidak punya...” Bos muda Lee tampak sibuk menelepon rekan bisnisnya, manager Kim asik dengan surat-surat kerja. ”Permisiiii...” tiba-tiba terdengar suara memanggil. ”Ada yang bisa saya bantu?” tanya manager Kim. ”Perkenalkan, saya Sun Hye. Apa Lee ada?” jawab perempuan itu. ”Sun Hye, apa kabar?” tanya bos muda Lee. ”Lee, akhirnya aku menemukanmu juga.” ”Aku akan pergi. Ayo, kau mau ikut tidak?” Di sebuah restaurant, tampak bos muda Lee dan Sun Hye duduk menikmati makanan. ”Kenapa kau pergi?” Sun Hye memcah kebekuan. ”Aku tak pernah pergi. Jadi, apa yang kau inginkan?” ”Apa yang aku inginkan? Tentu saja kembali bersamamu. Aku mencintaimu Lee..” ”Dan aku tidak mencintaimu. Jelas? Aku pergi dulu.” Pintu kamar terbuka, tak lama kemudian masuk bos muda Lee sambil membawa dua bungkus kantong di tangannya. Wajah Han Geuk terlihat berseri, sementara bos muda Lee hanya menatapnya penuh senyuman. Setelah mengusap kening Han Geuk, bos muda Lee kemudian melangkah keluar kamar. Ibu Han Geuk tersenyum dan langsung berbisik ke telinga Han Geuk. ”Dia Mencintaimu.” --- Pagi ini Han Geuk sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Han geuk kemudian membuka jendela kamarnya. Ia kemudian kembali mengingat awal pertemuannya dengan bos muda Lee. Han Geuk mengambil buku diary-nya dan mulai menulis. Begitu melihat ibunya berjalan ke arah tempatnya duduk, Han Geuk segera menutup buku diary-nya itu. ”Ibu, apa itu kimchi pedas kesukaanku?” ”Iya, ini kimchi kesukaanmu sejak kecil,” jawab ibu Han Geuk. Ia kemudian mengambil kimchi dan mulai memakannya. Kehadiran ibu sedikit membuat Han Geuk merasa nyaman. Han Geuk merasa mengantuk. Ia pun segera masuk ke dalam kamarnya untuk istirahat. Dilihatnya buku diari Han Geuk, ibu pun penasaran lalu mengambilnya. Airmata ibu tampak mulai menggenang di mata. Curahan hati saat ia harus sendirian menghadapi segala permasalahan hidup di Myeongdong. Ada perasaan bersalah karena ia jarang sekali menemui Han Geuk yang selalu merasa kesepian di Myeongdong. --- Sun Hye selama ini menyuruh orang untuk memata-matai kegiatan bos muda Lee. Tak lama kemudian ia mengambil telepon genggamnya. Trrtt..Trrttt.. Bos muda Lee pun segera mengambil teleponnya tersebut. Bos muda Lee segera menekan tombol reject. Bos muda Lee sepertinya sudah tak ingin berbicara lagi dengan perempuan itu. Sun Hye akhirnya segera menuju ke outlet starseven, mencoba bertemu dengan bos muda Lee. Sun Hye masuk ke dalam outlet. ”Aku ingin bertemu Lee.” ”Bos muda Lee belum masuk sejak tadi pagi.” ”Manager Kim, apa kau tahu dimana tempat tinggal karyawanmu yang bernama Han Geuk?” ”Tentu saja nona.” ”Kalau begitu antarkan aku ke rumah Han Geuk,” Tok..tok..tok.. Han Geuk segera berdiri dan menuju ke pintu. ”Apa Lee ada disini?” tanya wanita itu. ”Sun Hye mau apalagi kau kesini?” tiba-tiba bos muda Lee sudah berdiri di belakang Han Geuk. ”Hey lihat baik-baik perempuan ini. Bagaimana mungkin kau bisa membatalkan pertunanganmu hanya karena perempuan miskin seperti di?” ”Jaga sikapmu! Pergilah! Dan jangan pernah aku melihatmu lagi.” --- Sejak hari itu, Han Geuk mencoba menjaga jarak dari bos muda Lee. Suatu waktu, bos muda Lee sengaja meminta Han Geuk menemaninya makan siang, namun Han Geuk menolak. Perubahan sikap ini juga dirasakan oleh ibu Han Geuk. ”Han Geuk, apa kau mau berbagi cerita kepada ibu? Akhir-akhir ini kau sering terlihat melamun. Apa gara-gara lelaki itu?” ”Lelaki? Maksud ibu siapa?” ”Bos muda Lee.” ”Aku mencintainya, Bu...” ucap Han Geuk lirih. Han Geuk kembali memeluk erat ibunya. Keesokan harinya, Han Geuk kembali bekerja seperti biasanya. Bos muda Lee terlihat datang dengan wajah lesu. Suatu hari, ia memutuskan untuk mengungkapkan isi hatinya kepada Han Geuk. Hari itu, sebelum pulang bos muda Lee meminta Han geuk menemaninya menemui rekan bisnis di sebuah tempat. Ia sengaja tak mengatakan nama tempatnya karena khawatir Han Geuk akan menolak. Bulan mulai terlihat meski tertutup awan. Bos muda Lee mengajak Han Geuk berjalan di taman. ”Han Geuk...” ”Kenapa?” ”Aku mencintaimu..” ”Kalau kau benar-benar mencintaiku, tolong yakinkan aku..” --- Sejak bos muda Lee mengungkapkan perasaannya. Han Geuk tampak sering tersenyum sendiri. Hal ini membuat ibunya jadi heran. ”Ibu, bos muda Lee kemarin mengatakan padaku kalau ia mencintaiku..tapi aku belum menjawabnya..” ”Kenapa kau tak katakan padanya bahwa kau juga mencintainya?” ”Ibuuuu...” Han Geuk tak bisa tidur, bayangan wajah bos muda Lee masih saja mengisi pikirannya. Keesokan harinya, wajah Han Geuk terlihat sembab menahan kantuk. ”Han Geuk, kau dipanggil bos!” ucap manager Kim. Han Geuk pun melangkah masuk ke dalam ruangan manager. ”Han Geuk, aku ingin katakan kalau tiga hari lagi aku akan kembali ke Busan.’ ”Maksudmu?” ”Mungkin aku akan menetap disana.” ”Owh...” ”Han Geuk, aku hanya ingin katakan sekali lagi, aku mencintaimu..” Keesokan harinya, Han Geuk berangkat kerja tanpa semangat. ”Kau datang pagi sekali,” sapa bos muda Lee. ”Kau dari tadi berada disana?” jawab Han Geuk kaget. ”Hari ini banyak dokumen yang harus aku kerjakan. Besok mungkin aku sudah tak masuk kerja di sini.” ”Besok?” ”Aku putuskan besok pagi aku berangkat. Han geuk, jika kelak aku tak ada di sampingmu saat hujan datang, ingatlah itu. Kau tak pernah sendiri.” Hari itu suasana kerja menjadi sangat tidak menyenangkan. Han Geuk menuju ke toilet wanita lalu menangis sendirian di sana. Bos muda Lee mulai merapikan dokumen-dokumen yang akan dibawanya ke Busan. Jam dinding menunjukkan pukul dua belas siang. Karyawan tampak menemui bos muda Lee di ruangannya untuk salam perpisahan. Bos muda Lee melangkah keluar meninggalkan outlet. Sejenak ia menghentikan langkah kakinya, berharap Han Geuk akan menyusulnya. Namun, tak ada siapapun di belakangnya. Langin terlihat sangat hitam, sepertinya akan turun hujan deras sore itu. Akhirnya Han Geuk memutuskan untuk menyusul bos muda Lee di stasiun KTX Seoul. Han Geuk pun segera berlari ke sebuah taksi yang sedang antri menunggu penumpang segera menghampirinya. Sementara itu, bos muda Lee tiba-tiba teringat ada sesuatu yang tertinggal di outlet. Ia pun segera memutar arah sepeda motornya. Gerimis makin deras turun membasahi Myeongdong. Bos muda Lee masih memacu sepeda motornya. Tiba-tiba bayangan perempuan yang tadi dilihatnya naik taksi itu kembali muncul, ya, itu Han Geuk! Tak lama kemudian ia melihat sebuah taksi yang ia yakini adalah taksi yang ditumpangi Han Geuk. Namun sayang, taksi itu mulai hilang lagi dari pandangan. Ia segera memacu lagi sepeda motornya. Tiba-tiba di sebuah perempatan jalan tampak ramai orang-orang. Sepertinya ada kecelakaan karena beberapa orang tampak histeris. ”Ada apa ini?” tanya Han Geuk. ”Sepertinya kecelakaan.” jawab sopir taksi. Han Geuk segera membuka pintu taksi. Seorang pemuda tampak tergeletak di trotoar. Beberapa orang mencoba memanggil ambulan. Begitu sampai di tempat kecelakaan, Han Geuk langsung menjerit. ”Lee! Lee, bangun Lee! Bangun!” teriak Han Geuk. ”Han Geuk..aku mencintaimu.. A.. aku.. ak. .an.. menemani.. mu.. seti.. ap. .hujan.. datang” ucap bos muda Lee. Mata yang tadi terbuka lemah menatap Han Geuk kini kembali terpejam. ”Sepertinya korban sudah tak bernyawa,” bisik petugas yang memeriksa bos muda Lee kepada temannya. Han Geuk yang mendengar perkataan itu pun langsung jatuh pingsan.

5. Kelebihan dan Kekurangan Novel
Setelah membaca novel ”Tears in Heaven” saya mempunyai tanggapan bahwa novel tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan. Diantaranya :
a. Kelebihan
1) Memiliki cover yang menarik untuk dibaca.
2) Kata yang digunakan mudah untuk dimengerti.
3) Susunan cerita yang jelas.
4) Isinya tidak hanya tulisan, disertakan pula beberapa gambar.
5) Gambaran tempat dijelaskan, sehingga pembaca dapat membayangkan kondisi tempat tersebut.
b. Kekurangan
1) Warna kertas yang digunakan burem, sehingga kurang menarik
2) Tidak ada pemaparan mengenai riwayat pengarang
3) Tidak dituliskan nama penerjemah novel tersebut, karena novel ini bukan berasal dari Indonesia.
4) Banyak ditemukan kata yang salah dalam penulisan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar